18 January, 2012








SYAMANISME, TAOISME DAN PUISI MANTERA

SUTARDJI CALZOUM BACHRI

(Bagian II Esai “Perlawanan Estetik dan Metafisik Sutardji Calzoum Bachri”)



           Namun supaya tidak berlarut-larut, kita harus kembali ke mantra. Mantra dicipta dalam masyarakat yang mempercayai adanya kekuatan supernatural yang mempengaruhi kehidupan. Kekuatan ini bisa didayagunakan oleh manusia untuk menyelamatkan dirinya dari bahaya-bahaya yang mengancamnya dan untuk melindungi dirinya dari gangguan mahluk halus serta binatang buas. Di dunia modern monster-monster seperti juga hadir di tengah kita, dan bersembunyi di balik bermacam rekayasa mulai dari rekayasa ilmiah, genetik, ideologi, politik, dan sistem informasi. Ia hadir pula melalui dunia maya, membrondongkan berbagai simulacra ke alam bawah sadar kita.

             Untuk dunia seperti itu diperlukan cara pandang yang terbalik, dengan demikian keseimbangan dalam kehidupan kita terjadi. Cara pandang seperti itu telah ada sejak lama dalam kebudayaan umat manusia. Misalnya cara pandang seperti yang dipraktikkan para syaman, nabi-nabi apokaliptik seperti Zarathustra, tokoh-tokoh mistisisme Timur dan Barat, para Vedantin, Yogin dan Tantrik di India, Sufi di dunia Islam, dan lain-lain. Di kepulauan Melayu, sebelum hadirnya Tantrisme dan Sufisme, adalah syamanisme yang memiliki pandangan seperti itu.

            Kita tahu bahwa syamanisme merupakan sistem kepercayaan kuna yang paling bertanggung jawab bagi lahirnya tradisi mantra dan jampi-jampi. Ada segi negatif dan segi positifnya dalam sistem kepercayaan ini, sebagaimana dalam banyak aliran kepercayaan lain. Tergantung bagaimana kita mengaktualisasikan mana yang baik, dan menekan segi-segi negatifnya. Syamanisme meletakkan dan menyembunyikan pandangan hidup dan gambaran mereka tentang dunia di dalam mantra. Karena itu untuk mengetahui spirit mantra, kita harus bercermin pada suasana kejiwaan dan alam pikiran syaman.

            Menurut Izutzu (1983) kejiwaan syaman terlihat pada gejala mythopoiesis yang selalu terbawa dalam kehidupan seorang dukun atau syaman. Seorang syaman memiliki visi atau penglihatanarchetype yang bersifat ekskatik, yang membuat hidupnya penuh gairah dan dapat mengungkap rahasia alam gaib yang tampak chaotic. Dalam melihat segala sesuatu di dalam kehidupan, seorang yang memiliki penglihatan seperti itu akan memandang kehidupan sangat berbeda bahkan bertentangan dengan orang kebanyakan.

           Taoisme di Cina sebagai bentuk mistisisme yang berorientasi kepada alam, menurut Izuzu, berkembang dari syamanisme. Ia melahirkan suatu bentuk kosmologi yang bersifat imaginal, mirip dengan kosmologi Ibn `Arabi yang berteraskan teori Alam Misal atau Alam Imaginal. Dalam kosmologi seperti itu, terpatri keyakinan bahwa jalan untuk mencapai hakikat itu diliputi kegelapan yang begitu pekat, penuh rintangan berbahaya, dan membingungkan. Gambaran sesungguhnya tentang alam tidak dapat dijelaskan secara rasional, kecuali melalui perumpamaan dan tamsil-tamsil (Moore 1967; Izutzu 1983).

            Upaya untuk menyingkap misteri yang meliputi dunia ciptaan ini akan selalu dihadapkan pada kegagalan, kesia-siaan, dan kekaburan. Ia benar-benar tak terpahamkan oleh akal, apalagi secara inderawi. Dunia seperti itu juga dijumpai dalam diri manusia yang merupakan jagat kecil atau mikokosmos. Ia merupakan penghuni tetap alam bawah sadar dan supra sadar. Di situ Yang Hakiki menjejakkan kehadirannya sebagai bayang-bayang misterius. Karena tidak terpahamkan Ia hanya bisa digambarkan sebagai sesuatu Yang Tiada, sebagai Yang Tak Dikenal dan Tak Terpahamkan. Tetapi segala obyek yang ada di alam dunia ini berasal dari Yang Tiada. Di dalam Yang Tiada itulah jutaan benih kejadian tersimpan dan menunggu penampakan.

            Lukisan-lukisan Cina klasik, yang sebagian besar merupakan hasil karya penganut Taoisme, mencerminkan pandangan seperti itu. Terutama lukisan yang menghadirkan pemandangan. Gunung, lembah, lereng bukit, pepohonan, bentangan langit luas di atasnya, jalan yang berliku-liku dan berputar-putar naik turun, semua tidak luput dari guyuran kabut. Sosok manusia yang sedang mendaki gunung digambar kecil seakan tidak ada artinya di tengah keluasan semesta yang tidak terhingga dan remang-remang.

             Lukisan-lukisan itu pada dasarnya menggambarkan bahwa pada hakikatnya realitas itu diliputichaos, mengandung banyak misteri, dan serba nisbi. Berdasarkan kenyataan bahwa realitas itu diliputi chaos dan misteri yang tak terpecahkan, dan serba nisbi, maka lahirlah konsep yang disebut oleh Izuzu sebagai primordial indifferentiation (ketakacuhan primordial). Berdasarkan konsep ini uraian-uraian tentang jalan menuju hakikat tidak disampaikan melalui bahasa diskursif ilmu, melainkan menggunakan bahasa figuratif sastra yang bersifat simbolik dan metaforikal.

Dalam kosmologi Ibn `Arabi konsep primordial indifferentiation direpresentasikan melalui penggunaan tamsil seperti nur muhammad, untuk menjelaskan asas penciptaan. Menurut Ibn `Arabi, ketika dunia mulai dicipta Tuhan turun untuk menerangi kegelapan dengan cahaya-Nya, lantas dari cahaya-Nya itu Dia menciptakan asas awal segala ciptaan yang disebut Nur Muhammad, cahaya berkilauan yang terpuji. Dalam sajaknya “Sudah Waktu” Sutardji menulis: “sudah waktunya/memasukkan kembali/seluruh langit/semua langit/setiap darat/ kedalam dirimu//karena asal tanah itu kau/asal langit itu kau/asal laut itu kau/asal jagad itu kau”. Dia merindukan saat-saat awal penciptaan, ketika ruh manusia masih dekat dengan Tuhannya.

              Dalam Mantiq al-Tayr (Musyawarah Burung) `Attar menggambarkan hakikat diri atau asal-usul kejadian ini sebagai Simurgh, burung besar yang indah dan berkilauan, merdu suaranya, hidup sendiri di puncak gunung Qaf. Tetapi dalam mitos yang lebih kuna, asal-asul kejadian itu sering digambarkan sebagai monster besar yang menakutkan, wajahnya penuh keriput seperti nenek lampir, tetapi anggun, dan tidak acuh terhadap sekelilingnya. Dalam purana Hindu, Yang Hakiki digambarkan sebagai Dewa Syiwa yang memiliki berbagai manifestasi. Ia kadang hadir sebagai pemburu yang menakutkan, sebagai petapa agung yang mendatangkan rasa hormat, sebagai kesatria yang tangkas dan sakti, atau sebagai lelaki perkasa yang gemar mempertontonkan phallusnya di pintu asrama pelajar wanita, tetapi tidak membuat wanita yang melihatnya merasa jijik dan takut, sebaliknya justru terpesona dan jatuh cinta.
            Jika kita baca sajak panjang Sutardji “Amuk”, akan kita jumpai ‘aku lirik’ mewakili kesadaran primordial manusia mencari asal usulnya di alam ketuhanan, yang penuh misteri dan kegelapan. Penyair menghadirkan ‘ketakacuhan primordial’nya melalui imaji simbolik kucing (yang dengan sendirinya arkaik dan tepat) yang mengamuk, meraung-raung, mencakar-cakar, mencari Tuhan. Penjelajahan atau pencariannya dimulai dari alam fisik (alam nasut), kemudian ke alam yang lebih tinggi: pertama, alam kejiwaan (alam malakut, alam misal), kemudian lagi ke alam trasendental (alam jabarut), akhirnya ke alam metafisik (alam lahut).

ngiau! kucing dalam darah dia menderas
lewat dia mengalir ngilu ngiau dia bergegas
lewat dalam aortaku dalam rimba darahku
...
jangan beri daging dia tak mau daging jesus
jangan beri roti dia tak mau roti ngiau


dia tak makan berapa ribu waktu dia tak
kenyang berapa juta lapar kucingku
berapa abad dia mencari mencakar menunggu

...

lebih barah dari barah membarah dalam
darah dalam tiap zarah marwahku dia
makan aku sekarang dialah kucing
mautak mauku dia jadikan aku penggantiMu
dalam rimba diriku dalam dunia

             Setelah melontarkan pernyataan-pertanyaan eksistensial seperti “siapa bikin socrates siapa bikin plato” dan memberikan salam kepada gelisah hari dan bibit benci, aku lirik membayangkan dirinya sebagai jiwa yang memiliki banyak tawanan. Setelah itu ia beralih peran sebagai dokter bedah yang kejam, yang mencoba mengiris tubuh membelah benak dan membuka rabu mereka, sebab “siapa tahu ada tuhan sembunyi di sana”. Sia-sia menemukan Tuhan di situ, penyair berkata:

kalian menyimpan tuhan untuk sendiri
sampai kalian bangkai

         Yang dijumpai penyair hanya jejak-Nya. Namun jejak itu tak menuju ke mana-mana. Berbagai kenikmatan lahiriah dan kesenangan jasmani telah diperoleh, juga kelezatan ilmu dan falsafah, tetapi jiwa penyair masih meronta-ronta:

susu haru segala perempuan
aku telah ngisap kalian
perigi langit sumur seribu perahu
aku telah meregukmu
malam seribu bulan
aku telah menidurimu
tiang segala lelaki
aku telah sampai puncakmu
aku telah berjuta waktu
mencari menungguMu

(hal. 70)

           Kemudian kata sang penyair lagi:

lebih tua dari niniveh lebih tua dari sphinx
lebih tua dari maya lebih tua dari jawa
lebih tua dari babilon
aku telah hidup sebelum musa
ratusan abad ngalir dalam nadi
mengerang meraung menderu
mendesah darah meronta dalam aortaku
yang ada kini yang ada nanti yang ada kapan
setelah sampai venus setelah sampai zaman
maka akulah hidup
dan Kau telah menapakkan berjuta jejakMu dalam hidupku
(hal. 71)

              Aku lirik, yang pada mulanya merupakan simbol ‘kesadaran primordial’ manusia, kini berubah menjadi esensi kesadaran primordial pencipta peradaban, yang dalam falsafah Vaishesika India disebutmahat dan buddhi, seperti tampak dalam bait yang sarat dengan pertanyaan:

siapa bikin socrates siapa bikin plato
siapa bikin archimedes siapa bikin zeno
siapa bikin sartre siapa bikin laotze
siapa bikin mpu siapa bikin guru
kalau tak aku
yang membuat banyak bijak
dan belum menjangkauMu

(hal. 61)

            Konsep ketakacuhan primordial dalam sajak-sajak Sutardji jelas berakar dalam syamanisme. Melalui konsep itu, penyair ingin membiarkan spiritualitas berjalan sebagaimana adanya spiritualitas seperti halnya alam. Intervensi ilmu dan teknologi dalam memecahkan rahasia hidup tidak diperlukan, sebab malah akan mendatangkan kerusakan yang lebih parah.
            Dalam “Sejak” ia mengemukakan beberapa pertanyaan eksistensial: “sejak kapan sungai dipanggil sungai/sejak kapan tanah dipanggil tanah/sejak kapan derai dipanggil derai...dst”, dan penyair tidak merasa perlu memberi jawaban. Ia membiarkan misteri tetap hadir sebagai misteri. Tugas penyair hanya bagaimana merenunginya, dan semakin larut dalam renungan yang dalam, semakin dalam pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab, ia akan merasakan kehadirann Yang Hakiki, yang tak dikenal dan tak terpahamkan oleh akal.

            Bandingkan sikap Sutardji dengan Chuang Tze, guru Taois terkemuka, yang mengatakan: “Ada masanya ketika manusia zaman dahulu bersifat sempurna. Bilakah? Ketika mereka belum menyadari adanya benda-benda. Kemudian, mereka mengetahui adanya benda-benda, namun tidak berusaha memilah-milahnya. Kemudian lagi, mereka memilah-milah benda-benda, namun tidak berusaha memberi cap ‘betul’ kepada sebagian dan memberi cap ‘salah’ kepada yang lainnya. Segera setelah diberikan tanggapan-tanggapan semacam itu, maka pecahlah keutuhan Tao, sang Rahasia itu, dan muncullah prasangka (Creel 1957).

            Pada bagian lain sukhan atau wacananya Chuang Tze mengatakan, “Aku pernah mendengar agar dunia itu hendaknya dibiarkan menentukan jalannya sendiri, namun tidak pernah kudengar bahwa dunia dapat diperintah secara paksa dengan berhasil.” Gurunya, Lao Tze mengeritik peradaban yang mengingkari kodrat manusia dan menghancurkan asas keselarasan di alam semesta, dengan mengatakan bahwa senjata merupakan pertanda buruk karena dibuat hanya untuk kepentingan peperangan. Kuda-kuda diternakkan hanya untuk negara yang tidak patuh kepada Tao. Hukum dibuat hanya untuk keperluan pemerintahan dan aparat keamanan, dan semakin banyak undang-undang dibuat semakin banyak pula jumlah pencuri dan penjahat bermunculan di seantero negeri. Hukuman mati sebenarnya sia-sia, karena rakyat tidak pernah takut kepada maut yang dihadapi setiap detik dari kehidupannya.

           Dalam kisah Penguasa Awan dan Dewa Chaos, Chuang Tze membeberkan betapa sia-sianya mencari jawaban yang pasti dan final tentang misteri yang meliputi alam semesta. Tetapi ini tidak berarti manusia tidak berusaha mencarinya, demi kesenangan dan kepuasan hatinya. Bahkan tanpa berusaha mencarinya, manusia tidak akan tenang dan mencapai kebahagiaan, juga tidak akan tahu cara yang sesuai bagi dirinya untuk menyatukan dengan alam dan kehidupan.

           Diceritakan ketika mengadakan perjalanan ke timur Penguasa Awan berjumpa dengan Dewa Chaos. Penguasa Awan terperanjat melihat Dewa Chaos berjalan seraya memukul-mukul bokongnya sendiri dan melompat-lompat seperti burung. Penguasa Awan bertanya, siapa dia dan mengapa berbuat demikian. “Aku sedang bersenang-senang,” jawab Dewa Chaos. Penguasa Awan berkata, “Ether di langit tidak lagi selaras, ether di bumi terlalu banyak bergerak. Keenam kaki mereka berjalan tidak teratur. Saya ingin menyelaraskan kaki mereka agar mahluk-mahluk hidup terpelihara dari ancaman anarki dan kekacauan. Bagaimana caranya?” Dewa Chaos, seperti Sutardji menjawab, “Aku tak tahu. Tak Tahu. Tak tahu.”

           Mereka pun berpisah. Tetapi di sebuah rimba belantara dipenuhi kabut, mereka bertemu lagi. Penguasa Awan bertanya, “Apa Anda lupa kepada saya?” Dewa Chaos menjawab, “Aku melayang kesana kemari tanpa tahu apa yang kucari. Aku sekadar bergerak disebabkan dorongan hati sesaat, aku mengembara tanpa tujuan, sambil melihat sesuatu tanpa prasangka dan praduga, tanpa niat buruk. Lantas bagaimana aku bisa mengetahui hakikat sesuatu?” Penguasa Awan berkata, ia sebenarnya juga seperti itu. Tetapi manusia berbondong-bondong mengikuti ketidaktahuan dan pengembaraannya. “Apa yang harus kulakukan?” Dewa Chaos menjawab, “Asas-asas pokok dunia telah dilanggar, susunan benda-benda telah diputarbalik. Gerak rahasia alam telah mengalami kegagalan, kawanan binatang berhamburan ke mana-mana, sekalian burung meratap di malam hari, tetumbuhan dan pepohonan layu pada musim hujan, kerusakan bahkan terjadi pula pada serangga dan kecoa. Semua ini disebabkan kekeliruan penanganan. Manusia yang begitu banyak itu telah menderita dan gagal menjadi manusia karena diperintah oleh segelintir orang yang tidak tahu apa-apa mengenai Jalan sejati.”

           Ketakacuhan primordial seperti itu tidak dapat ditafsirkan sebagai sikap anti- dunia. Seandainya timbul kesan penolakan terhadap ‘dunia’ dan ‘peradaban’, atau yang semacam dengan itu dalam pernyataan tersebut, maka yang dimaksud dunia dan peradaban ialah sebagaimana adanya dunia dan peradaban itu. Tetapi sebuah dunia atau peradaban yang tercela, hampa nilai spiritual, membelenggu kreativitas dan mekarnya dimensi transenden dari kehidupan manusia, harus ditolak. Sebuah dunia yang hilang kemurniannya disebabkan korupsi nilai-nilai. Ketakacuhan primordial dengan demikian harus didudukkan pengertiannya sebagai ‘sikap jiwa’ atau ‘sikap hati’ yang tidak mau ditundukkan oleh hal-hal yang serba duniawi dan serba bendawi (Creel 1967).

          Jika sikap semacam itu dipandang sebagai eskapisme dan sikap membenci dunia dalam artian harafiah, maka tentu penganut-penganut spiritualisme, mistisisme, taoisme, syamanisme, dan lain-lain tidak akan menyumbangkan apa-apa kepada peradaban dan kebudayaan umat manusia. Kenyataan sejarah menunjukkan hal yang sebaliknya. Justru para mistikus dan sufi, atau mereka yang mempunyai hubungan dengan mistisisme dan tasawuf, yang paling besar kontribusinya bagi perkembangan seni dan sastra. (BERSAMBUNG)





Sutardji Calzoum Bachri




















No comments: